Dokter Terawan mulai terkenal lantaran praktek terapi cuci otak dalam penyembuhan penyakit stroke yang biasa disebabkan oleh terhambatnya aliran darah ke otak lantaran penyempitan atau pembuluh darah yang tersumbat.

Banyak kalangan menilai terapi cuci otak Dokter Terawan merupakan trobosan.

Salah satunya adalah Bambang Kuncoro, Warga Jakarta yang sudah tiga kali terkena serangan stroke namun berhasil disembuhkan oleh dokter Terawan.

Tribun-Video melansir Wartakotalive, Bambang sempat berobat ke Singapura berhari-hari namun tidak mendatangkan hasil.

Ke Singapore Tidak Sembuh, Kesini Kok Langsung Sembuh

"Saya ini sudah tiga kali terkena stroke. Ke Singapura juga enggak sembuh-sembuh. Lha ketika berobat ke Mas Terawan hanya dua hari, kok sembuh sampai sekarang," kenang Bambang kepada Wartakotalive.com.

Dia Adalah Salahsatu Dokter yang Tidak Doyan Duit

"Saya saksi hidup. Itu dokter Terawan adalah dokter yang tidak doyan duit. Sing penting pasien yang dia tangani sembuh," tambahnya.

Saat mendengar kabar IDI menonaktifkan keanggotan dr Terawan, Bambang Kuncoro mengaku kaget.

"Saya ini kan lagi dalam perjalanan menuju ke Bandung naik bus. Begitu membaca berita di Wartakotalive.com soal pemecatan dr Terawan, saya langsung nangis tersedu-sedu, sampai saya malu sama penumpang lainnya," ujarnya.

Gara-gara itu, Bambang langsung turun di Cibubur, menarik nafas dan menghentikan tangisnya. "Kenapa ya orang baik seperti dr Terawan harus dianiaya seperti itu. Kasihan dia," ungkapnya sambil telepon ke redaksi Wartakotalive.com.

dr Terawan Sebut 'Cuci Otak' Sudah Teruji Secara Ilmiah


Terapi cuci otak Dokter Terawan menggunakan obat heparin guna menghancurkan plak tersebut. Heparin dimasukkan lewat kateter yang dipasang di pangkal paha menuju sumber kerusakan pembuluh darah penyebab stroke di otak.

Dalam konferensi pers yang diadakan di Gedung Utama Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), Senen, Jakarta Pusat, Rabu (4/4/2018), dr Terawan mengatakan bahwa metode DSA sudah teruji secara ilmiah.

"Jadi kalau itu diuji secara ilmiah sudah dilakukan melalui disertasi, dan disertasi sebuah universitas yang cukup terpandang menurut saya adalah hal yang harus dihargai," ujarnya, Rabu (4/4/2018).

Ternyata Majelis Kehormatan Etik Kedokteran IDI menganggap metode tersebut melanggar etik.

Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) memecat kepala RSPAD Gatot Subroto dr Terawan Agus Putranto karena dinilai melakukan pelanggaran etika kedokteran.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pun memberikan sangsi kepada dokter Terawan berupa pemecatan selama 12 bulan dari keanggotaan IDI sejak 26 Februari 2018 - 25 Februari 2019.

IDI juga turut mencabut izin praktek Dokter yang pernah menerima penghargaan Bintang Mahaputera Naraya.

Reaksi SBY : dr Terawan Adalah Champion, IDI Jangan Asal Ambil Putusan


Presiden RI Keenam Susilo Bambang Yudhoyono meminta IDI nantinya tak asal membuat keputusan soal dokter yang juga merupakan Kepala RSPAD itu.

SBY mengenal dr Terawan secara personal. Sewaktu menjabat sebagai Presiden, dia kerap berkomunikasi dengan Terawan.

Bahkan ada seorang perdana menteri negara lain, berobat ke dr Terawan. Si perdana menteri itu berobat di negerinya sendiri namun tak sembuh.

"dr Terawan tanya ke saya, saya bilang 'lakukan sesuai prosedur'. Dan perdana menteri sahabat saya itu sembuh,"

Aburizal Bakrie Pernah Ditolong Dr. Terawan


Ketua Dewan Pembina Partai Golkar, Aburizal Bakrie (ARB), mengaku syok saat mengetahui berita pemecatan dokter Terawan oleh MKEK PB IDI hingga pencabutan izin praktik. Hal itu bukan tanpa alasan, karena DR Terawan diakui ARB pernah menyelamatkan nyawanya.

IDI Pecat dr Terawan, Ibas : Sungguh Terlalu


Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mengecam aksi pemecatan tersebut. Menurutnya sungguh terlalu.

“Jika benar seperti ini, sungguh terlalu. Semestinya Dokter Terawan dapatkan gelar tanda jasa bukan justru dipecat. Aneh Bin Ajaib persaingan masa kini!” tulis Ibas di akun twitternya @Edhie_Baskoro, Rabu (4/4/2018).

Kata dia, jika seorang dokter yang mampu menemukan terobosan baru dalam dunia kedokteran dengan ribuan pasien dalam rentang waktu praktik bertahun-tahun seharusnya mendapatkan catatan khusus atas capaiannya.

“Jadi jangan dengan pemecatan hingga menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat,” tegasnya.

Oleh karena itu, Ibas berharap penyelesaian masalah tersebut seharusnya menjadi momentum kemajuan di dunia kedokteran.

Menkes Siap Mediasi IDI dan Dokter Terawan

Permasalahan antara dr Terawan dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) telah meluas ke ranah publik. Isu yang seharusnya dapat diselesaikan secara internal justru belum kunjung terlaksana karena surat tersebut sudah beredar terlebih dahulu di media sosial.

Namun, jika pihak IDI dan dr Terawan belum bisa menemukan jalan tengah, Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nila F. Moeloek siap untuk memediasi pertemuan antara keduanya.

Berikut Tanggapan IDI Mengenai Pemecaran Dokter Terawan

Pengurus Besar IDI menyebut pemberian sanksi etik adalah ranah MKEK. Namun sesuai ketentuan organisasi, dr Terawan berhak mendapat pembelaan dari Biro Hukum Pembinaan dan Pembelaan Anggota (BHP2A) PB IDI di dalam forum khusus.

Informasi tersebut dibenarkan oleh Ketua Terpilih PB IDI dr Daeng Muhammad Faqih. Dihubungi detikHealth, dr Daeng menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada tindak lanjut dari PB IDI atas keputusan MKEK.

"Jadi yang ada itu baru putusan MKEK yang merekomendasikan suspend sementara.... Sampai saat ini PB IDI belum melakukan tindak lanjut, jadi belum ada proses suspend/pemecatan sementara," kata dr Daeng.