Air mata Syamsu alias Alga sudah mengucur deras ketika berdiri menunggu rombongan tiba.
Kopiah hitam yang sudah tak pekat menempel di kepalanya.
Tak ada baju bagus, Alga hanya memakai baju orange dipadu abu-abu bernomor 009 saat itu.



Tidak lama Alga berdiri, mobil ambulance datang.
Pintu belakang mobil dibuka.
Alga langsung menghampirinya.



Di dalam mobil ada seorang lelaki yang duduk sambil memangku jasad bertubuh kecil.
Jasad itu ditutup kain menyerupai sajadah.
Saat lelaki tersebut turun Alga langsung menghampirinya.

Jasad yang sudah dibungkus kain kafan langsung diserahkan pada Alga.
Air matanya tak kuasa dibendung.


Sejumlah wanita juga pria yang ada di lokasi memeluk erat Alga yang sedang menggendong jasad.

Sosok yang digendongnya tak lain ialah sang anak.

Tangis haru pecah, Alga mencoba untuk mencium wajah dari jasad sang anak.
Beberapa orang juga mencoba untuk membuka tali yang mengikat kain kafannya.


"Jangan ini kan sudah dimandikan," kata seorang wanita.
Jasad itu lantas kembali ditutup menggunakan sajadah.

Alga hanya bisa menangis di depan jasad anaknya.



Pria tersebut harus merasakan sedih lantaran kepergian orang yang dicintainya yang tak lain adalah anaknya sendiri.

Anak tercintanya yang diketahui bernama Alga itu harus pergi untuk selama-lamanya.

Namun sayang, statusnya yang masih menjadi warga binaan lapas mengharuskannya untuk tidak menghadiri pemakaman sang anak.

Seolah tak ingin melewatkan kesempatan untuk yang terakhir kalinya, Pria yang tidak diketahui identitasnya itu pun akhirnya diijinkan untuk melihat jasad sang anak.

Namun ia hanya diperbolehkan menemui buah hatinya di depan Kantor Lapas Watampone.

Saat mobil ambulan datang, ia langsung menggendong jasad anaknya yang sudah terbungkus kain kafan itu.

Suasana haru menyelimuti pertemuan antara ayah dan anak tersebut.

Sang ayah terlihat menangis dan terus memeluk jasad sang anak yang telah terbujur kaku.

Kerabat yang mengantar pun terlihat mengelilingi pria tersebut sambil menampakan wajah sedih

Sejumlah warganet menyebut pihak Lapas Watampone tidak memiliki hati lantaran tidak mengizinkan tahanan itu melayat.

Menanggapi hal tersebut, Humas Lapas Watampone Azhar menuturkan pemberian izin tahanan itu merupakan kewenangan penahan.

"Yang bersangkutan itu tahanan hakim, sehingga lapas tidak mempunyai kewenangan untuk mnberikan izin melayat," kaata Humas Lapas Watampone Azhar kepada tribunbone.com, Sabtu (17/3/2018) dini hari.

"Yang jelas kalau tahanan lapas tidak punya wewenang, yang punya hak adalah pihak penahan, mempertemukan saja diluar halaman lapas sudah merupakan kebijakan karena alasan kemanusian,"jelasnya.



#peluk tangisan di lapas watampone#yang sabar de alga.cuma bisa membawa mayatnya di lapas#"

Begitu tulis akun Dudhy Photograf dalam keterangan postingan videonya.

Hingga kini unggahan tersebut sudah 2,4 ribu kali dibagikan dan 114 ribu kali tayang.

- via TribunTimur.com -